Selasa, 21 Juli 2009

Pekanbaru, Fakta Post – JUMPA Pers Gubri M Rusli Zainal didampingi Walikota Pekanbaru Herman Abdullah dengan PLN berubah menjadi ajang ‘penghakiman’ wartawan terhadap PLN.

Sejumlah wartawan yang mengikuti jumpa pers dengan Gubernur Riau M Rusli Zainal, Walikota Pekanbaru, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Riau Emrizal Pakis dan Manejer Perencanaan PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau Yugo Riatmo, Kamis (16/7/09) tak bisa menahan rasa jengkel. Wartawan yang juga pelanggan PLN swolah ingin memanfaatkan jumpa pers di VIP Lancang Kuning Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru untuk melampiaskan kejengkelan. Jadilah jumpa pers tersebut seperti ajang ‘pengakiman’ terhadap PLN.

Semua jumpa pers berjalan lancar. Gubernur M Rusli Zainal menjelaskan langkah-langkah yang telah diambil Pemprov Riau dalam mengatasi krisis listrik. Langkah terbaru adalah menjumpai Menteri Keuangan Sri Mulyani agar membantu meloloskan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) 2x100 megawatt (MW) di Riau pada APBN.

Proyek PLTG 2 x 100 MW di Riau sebenarnya baru bisa dilaksanakan pada 2013 mendatang, hal itu berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No.71/2006 tentang pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW di seluruh Indonesia tahap I, namun Pemprov Riau telah mengirim surat kepada Presiden agar Pepres tersebut direvisi dengan melakukan percepatan waktunya.

“Kita tidak sekedar mengirim surat, tetapi juga menyatakan kesiapan membantu pendanaan dengan adanya kesepakatan sindikasi bank beberapa waktu lalu,” tegas gubernur Rusli Zainal.

Namun saat sesi tanya jawab dibuka, para wartawan serentak menjadikan Yugo sebagai sasaran. Terlebih saat memberikan penjelasan terkesan normatif. “Kita minta solusi kongkritnya apa, Pak. Tak perlu penjelasan panjang lebar. Solusi jangka pendeknya apa untuk mengatasi krisis listrik yang sudah parah ini?” seseorang wartawan memotong penjelasan Yugo yang dianggap bertele-tele.

Yugo gelegapan. Ia tak bisa memberikan penjelasan kongkrit mengenai solusi jangka pendek agar durasi pemadaman listrik bergilir bisa diperpendek. Tidak 12 jam sehari. Belum lagi bisa menguasai diri sepenuhnya, wartawan lain sudah melontarkan kritik pedas mengenai kinerja PLN Wilayah Riau dan Kepri yang dinilai tak mau belajar dari pengalaman.

“Kondisi ini sudah berjalan bertahun-tahun, mengapa PLN tak belajar dari pengalaman dan membuat perencanaan yang lebih baik, sehingga krisis listrik tidak berulang terus,” runtuk wartawan tersebut.
Lagi-lagi Yugo terpojok. Ia tak punya penjelasan memuaskan untuk wartawan yang sepertinya terpengaruh pada kekecewaannya sebagai pelanggan PLN yang sedang sangat dirugikan akibat pemadaman listrik yang bertambah lama.

Meskipun terpojok, namun Yugo justru membantah perencanaan PLN Wilayah Riau dan Kepri lemah. Bantahan tersebut disampaikan saat menjawab pertanyaan wartawan riau-terkini mengenai kualitas perencanaan yang disusun PLN selama ini. “Sebaik apapun perencanaan yang kami susun, kalau anggarannya tidak cukup, kita bisa berbuat apa?” tukasnya buka rahasia.

Riau-terkini lantas balik bertanya, jika selama ini tidak terjadi sinkronisasi antara perencanaan dan kemanpuan anggaran, maka bisa disimpulkan bahwa PLN Wilayah Riau dan Kepri tidak rasional dalam membuat perencanaan. Atas kesimpulan tersebut, Yugo hanya bisa berdiam.

Pertanyaan lebih keras kemudian dilontarkan seorang wartawan televisi. Ia bertanya apakah Yugo siap mundur jika kondisi krisis listrik tak membaik tahun depan? Lagi-lagi Yugo hanya bisa terdiam.

Secara umum tidak ada langkah konkrit yang bisa dijanjikan PLN, berdasarkan keterangan Yugo, untuk mengatasi krisis listrik di Riau. Yugo juga tidak berani memberi kepastian sampai kapan kondisi buruk ini berlangsung.

Upaya hujan buatan agaknya menjadi satu-satunya solusi yang bisa diharapkan. Dengan demikian, PLN hanya bisa mengharapkan kemurahan Tuhan dengan segera menurunkan hujan.